Sabtu, 29 Oktober 2016

3 Hal Mulia yang Harus Dilakukan Guru dalam Masyarakat

Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani

"Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani"

Kalimat ungkapan bahasa Jawa di atas di ciptakan oleh seorang pelopor dalam bidang pendidikan yang juga sekaligus sebagai salah seorang Pahlawan Indonesia, beliau adalah Ki Hajar Dewantara. Beliau ini adalah seorang pejuang dalam bidang pendidikan pada masa penjajahan Belanda, dimana beliau sangat peduli terhadap hak rakyat jelata untuk mendapatkan pendidikan seperti halnya para priyayi dan orang Belanda pada waktu itu. Ki Hajar Dewantara juga mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Perguruan Taman Siswa sebagai bentuk kepeduliaannya akan pendidikan untuk rakyat pribumi. Lembaga pendidikan yang didirikan tersebut sampai dengan saat ini masih ada di wilayah Yogyakarta dan masih tetap memakai nama Perguruan Taman Siswa.

Apakah yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dengan ungkapan Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat latar belakang ungkapan tersebut. Pada awalnya slogan atau ungkapan ini hanya ditujukan buat para pengajar atau guru atau pendidik pada saat itu. Dimana seorang pengajar/guru itu harus menjadi teladan atau contoh dari murid-muridnya di dalam setiap aspek kehidupan yang ada. Dikarenakan kondisi pada waktu itu tidak banyak orang yang mendapatkan pendidikan dan atas dasar pemikiran bahwa kemajuan masyarakat hanya dapat dicapai dengan adanya pendidikan untuk semua orang maka Ki Hajar Dewantara menugaskan guru-guru yang ada tidak hanya sekedar mengajar di sekolah. Akan tetapi seorang guru harus menjadi penggerak secara nyata di dalam masyarakat. Dan diciptakanlah kalimat semboyan atau slogan yang berisikan 3 tugas seorang guru di tengah masyarakat. Adapun untuk masing-masing tugas tersebut adalah sebagai berikut:
  • Ing ngarso sung tuladha
Kalimat di atas apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah: pada saat posisi kita di depan (memimpin) kita harus menjadi contoh atau memberikan teladan. Makna atau ajaran yang ingin disampaikan adalah:
seorang guru itu adalah seorang pemimpin yang harus menjadi telandan bagi murid-muridnya atau orang yang diajarnya. Mengapa guru disebut sebagai seorang pemimpin? Karena pada waktu itu tidak banyak orang yang berpendidikan sehingga seorang guru yang yang pastinya lebih terpelajar dan berpendidikan haruslah memberikan bimbingan dan memimpin masyarakat terutama dalam hal meraih pendidikan. Pada masa sekarang dimana pendidikan sudah merata maka ungkapan di atas juga dapat dimaknai untuk seluruh anggota masyarakat yang ada. Pada saat seorang anggota masyarakat itu mempunyai sesuatu yang lebih dalam bidang tertentu daripada orang-orang yang berada di sekitarnya, maka ia harus memberikan teladan atau contoh kepada orang yang lainnya.
  • Ing madya mangun karso
Dalam Bahasa Indonesia kalimat di atas dapat diterjemahkan sebagai pada saat posisi kita di tengah maka kita harus membangun kemauan orang di sekitar kita untuk maju. Ajaran yang ingin disampaikan adalah:
Para guru ditugaskan untuk dapat membangun kemauan masyarakat disekitarnya untuk belajar dan mendapatkan pendidikan. Adapun untuk masa sekarang tugas ini tidak hanya untuk seorang guru semata tetapi juga ditujukan untuk semua orang. Diharapkan setiap orang selalu berusaha membina kemauan dan saling membangun di setiap aspek kehidupan yang ada di masyarakat sehingga akan menjadikan masyarakat lebih baik dalam segala hal.
  • Tut wuri handayani
Dapat diartikan, apabila posisi kita di belakang maka kita harus menjadi daya pendorong atau menjadi penyemangat. Adapun maksud yang ingin disampaikan adalah: Seorang guru harus dapat menjadi penyemangat dan pendorong dari masyarakat dimana dia berada. Untuk saat ini, semua orang harus saling menyemangati dan mendorong agar tercipta suatu kehidupan yang lebih baik di dalam masyarakat.

Akhir kata, pemahaman saya untuk ungkapan "Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani" hanyalah seperti yang sudah saya tuliskan di atas, Mohon maaf apabila ada pemahaman saya yang kurang dalam konteks ini, Saya berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan yang sempat membaca, terima kasih.

Tonton juga video kumpulan pepatah Jawa yang lainnya:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar